And they found a servant from among Our servants to whom we had given mercy from us and had taught him from Us a [certain] knowledge. (Quran: Al-Kahf: 85)

Archive for May, 2014

Membatasi Rezeki

Rizqi (pemberian) itu tidak sebatas nominal (mata uang). Allahu Ar Razaq.

Pojok Biru

Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya

Rezeki Allah itu luaaas sekali. Tapi pernah nggak menyadari bahwa sering kali kita yang membatasi rezeki kita sendiri? Membatasi seperti apa? Baiklah. Saya akan bercerita tentang perenungan saya di busway–as usual saat diem di busway seperti ini, adalah saat yang sangat bisa kita manfaatkan untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kontemplasi. Yap. Sampai akhirnya saya menuliskan judul di atas.

Tulisan ini akan saya mulai dari cerita seorang gadis. Sebut saja namanya Harmoni (terinspirasi dari halte paling hectic se-Jakarta). Harmoni ini ingin sedekah. Ia juga ingin sekali memberikan uang untuk kedua orang tuanya. Tapi oh tapi bukan iman namanya jika tidak diuji. Bagian dari dirinya yang lain mengeluh.

“Saya ingin sedekah Ya Allah. Tapi kan gaji saya bulan ini pas-pasan. Nanti buat hidup sampai akhir bulan gimana? Ah lagian kan orang tua masih bisa…

View original post 383 more words

Corporate Governance: Healing The World

Corporate-GovernanceThis writing would cover about what I would do if I have the power to change the world with two approaches, causes which I concerns, and its solutions.

I really concerns in the wealth distribution in current economy, especially in empowering specific elements of society. Scholars of neoclassical economy said that current economy is driven by greed, and they argue that greed is good to have economic growth. They are measured by world GDP at ultra-macro level, company size growth at micro level, etc. To feed these growths, people struggles to find any available resources, one of them is capital resources. To acquire the capitals they need, it demands liquidity (money). These liquidities are highly demanded which resulting in increment of the price of the liquidity itself. Meanwhile, at the same time, the price of money is reflected as interest rate charged.

Scholars at this topic argue that these interest rates are associated with the risk nature of debtor. The less risky the debtor, the rate would be charging low. At the other hand, the rate charges high for risky debtors.

This condition is really sad since the one who is being charged high mostly is small medium enterprise (SME). The volatility nature of SME businesses becomes the reason of creditors to charge wildly, away above free rate or market premium. The condition is worsened in emerging markets. In emerging markets, the alternative financing doesn’t really exist, while emerging markets’ interest rate is relatively high due to sovereign risk factor. The SME businesses in emerging countries face double risks associated to them. It leaves them no options to finance their business, except the costly interest rate which could be up to 30% (and even 50% in black market). The cycles of economic with this trend-pattern continues, broadening the global gap between rich and poor people.

(more…)

Dua sisi nikmat

Semu, semu, s.e.m.u, ya semu.

Itu lah haikikatnya kesenangan dunia; semu.

Alhamdulillah wa astaghfirullah, dalam tahun 1435 Hijri ini mendapatkan nikmat dunia yang luar biasa banyak.

Layaknya pisdouble-edged-swordau bermata dua, nikmat-nikmat berlimpah tersebut dapat menjadi rahmat atau justru jadi bumerang.

Nikmat tersebut harusnya dimanfaatkan untuk mencapai nikmat paling utama, yaitu bertemu Allah Al Khaliq.

Di sisi lain, terkadang manusia terhanyut dalam nikmat-nikmat tersebut, bukannya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tapi digunakan untuk hal-hal bathil dengan terhanyut dalam pusaran gravitasi nikmat-nikmat itu.

Lebih parahnya, ada yang mengerti perihal ini tapi tidak diindahkan, aqal nya sudah kalah dengan emosi (nafs) nya.

Kacau nya lagi, ada yang mengerti perihal parahnya, tapi justru tidak mengindahkan bahkan nulis di-blog sok-sok-an righteous.

Astaghfirullah….

Astaghfirulllah…

Astaghfirulllah…

Na’udzubillahi min dzalik.