And they found a servant from among Our servants to whom we had given mercy from us and had taught him from Us a [certain] knowledge. (Quran: Al-Kahf: 85)

Membatasi Rezeki

Rizqi (pemberian) itu tidak sebatas nominal (mata uang). Allahu Ar Razaq.

Pojok Biru

Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya

Rezeki Allah itu luaaas sekali. Tapi pernah nggak menyadari bahwa sering kali kita yang membatasi rezeki kita sendiri? Membatasi seperti apa? Baiklah. Saya akan bercerita tentang perenungan saya di busway–as usual saat diem di busway seperti ini, adalah saat yang sangat bisa kita manfaatkan untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kontemplasi. Yap. Sampai akhirnya saya menuliskan judul di atas.

Tulisan ini akan saya mulai dari cerita seorang gadis. Sebut saja namanya Harmoni (terinspirasi dari halte paling hectic se-Jakarta). Harmoni ini ingin sedekah. Ia juga ingin sekali memberikan uang untuk kedua orang tuanya. Tapi oh tapi bukan iman namanya jika tidak diuji. Bagian dari dirinya yang lain mengeluh.

“Saya ingin sedekah Ya Allah. Tapi kan gaji saya bulan ini pas-pasan. Nanti buat hidup sampai akhir bulan gimana? Ah lagian kan orang tua masih bisa…

View original post 383 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: